Gangguan Fonologi pada Anak Tunarungu di SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik
DOI:
https://doi.org/10.17509/artikulasi.v1i2.38896Kata Kunci:
gangguan fonologi, neurolinguistic, tunarunguAbstrak
Neurolinguistik merupakan bidang kajian ilmu linguistik yang membahas mengenai struktur otak yang dimiliki seseorang untuk merespons bahasa. Fonologi adalah ilmu yang mempelajari bunyi bahasa. Bahasa memiliki fungsi yang sangat erat kaitannya dalam kehidupan. Proses pembelajaran bahasa di sekolah merupakan sumber utama seseorang agar berbahasa dengan baik bagi anak yang memiliki kekurangan ataupun tidak. Anak tunarungu memiliki tingkat kesulitan dalam pembelajaran bahasa. Anak tunarungu memiliki gangguan pendengaran dan mekanisme berbicara yang menyebabkan ia sulit menggunakan bahasa dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemampuan berbahasa anak tunarungu serta mendeskripsikan bentuk gangguan fonologi yang terjadi pada anak tunarungu di SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik. Penelitian ini menggunakan teori neurolinguistik yang di dalamnya mengkaji tentang hubungan fungsi otak manusia dengan proses mengolah bahasa. Apabila seseorang tidak dapat berbahasa dengan baik dapat dikatakan ia memiliki gangguan yang mencakup gangguan pendengaran serta mekanisme berbicara. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, teknik rekam, dan teknik simak catat. Setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Teknik keabsahan data dilakukan dengan menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik guna menguji kreadibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) 10 peserta didik tunarungu di SLB AB Kemala Bhayangkari 2 memiliki kemampuan berbahasa yang rendah, (2) terdapat gangguan fonologi yang terjadi pada 10 peserta didik tunarungu yang mencakup omisi, adisi, dan substitusi pada kontoid dan vokoid.
Referensi
Ahlsen, E. (2006). Introduction to Neurolinguistics. Amsterdam:John Benjamin Publishing Company.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Budianingsih, T. (2017). Peran neurolinguistik dalam pengajaran bahasa. Jurnal al-Azhar Indonesia Seri Humaniora, 3(2), 137-149.
Cahyantini, I.A. (2018). Gangguan Fonologi pada Anak Penyandang Afasia Perkembangan di Klinik Bina Wicara. Tesis tanpa terbitan. Universitas Negeri Jakarta.
Chaer, A. (2003). Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2009). Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineke Cipta.
Djiwandono, P.I. (2015). Tidak Sulit, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Bahasa. Yogyakarta : Deepublish.
Doman, G. & Doman, J. (2005). How To Teach Baby Read (The Gentle Revolution Series). New York : Square One Publisher.
Hallahan, D. P and Kauffman, J. M. (1991). Exceptional Children: introduction to special Education. New Jersey: Pretice Hall, Inc.
Harris, D. P. (1974).Testing English as a Second Language. New Delhi: Mc.Graw-Hill Publishing Company Ltd.
Heaton, J. B. (1989). Writing English Language Test. New York: Longman.
Jamaris, M. (2018). Anak Berkebutuhan Khusus. Bogor: Ghalia Indonesia.
Depdikbud. (2020). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka.
Luria, A. R. (1976). Basic Problems of Neurolinguistics. Janua Linguarum, Vol. 73.
Mahsun. (2007). Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Moleong, L. J. (2009). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Muslich, M. (2008). Fonologi Bahasa Indonesia Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nasrullah, R, Dadang S., Wagiati, Sugeng R. (2019). Ekspresi Verbal Afasia Broca Fasih. Bandung: CV. Semiotika.
Rahmah, F. N. (2018). Problematika anak tunarungu dan cara mengatasinya. Quality, 6(1), 1-15.
Sastra, G. (2010). Neurolinguistik Suatu Pengantar. Bandung: Alfabeta Bandung.
Setyaningsih, M. (2018). Pelaksanaan Program Pembelajaran Pengembangan Komunikasi Presepsi Bunyi dan Irama Tahap Identifikasi Siswa Tunarungu Kelas. Jurnal Pendidikan Khusus, 14 (1).
Setyonegoro, A. (2013). Hakikat, Alasan, dan Tujuan Berbicara (Dasar Pembangun Kemampuan Berbicara Mahasiswa). Jurnal Pena, 3 (1)(1), 67–80.
Somantri. (2016). Analisis Penggunaan Keigo dalam Lingkungan Kerja pada Film Kenchou Omotenashi. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan (Suatu Pendekatan Praktek). Jakarta: Rineke Cipta.
Tarigan, H. G. (1988). Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Artikulasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






