Analisis Kesalahan Fonetik Artikulatoris pada Pelafalan Pemelajar BIPA Korea dan Pemanfaatannya sebagai Bahan Ajar BIPA Dasar
DOI:
https://doi.org/10.17509/artikulasi.v1i2.38994Kata Kunci:
analisis kesalahan fonetik artikulatoris, modul digital, pelafalan, BIPA dasarAbstrak
Pembelajaran pelafalan adalah salah satu komponen penting yang harus dipelajari dalam pengembangan kemampuan berbahasa kedua. Jika diksi dan struktur kalimat sudah benar, tetapi dilafalkan dengan salah, maka maksud yang hendak diutarakan pada masyarakat awam tidak tersampaikan dengan baik. Apabila kesalahan tersebut tidak dibenarkan, maka pemelajar akan terbiasa dengan pelafalan yang salah. Berdasarkan hal tersebut, mesti ada sebuah perangkat pembelajaran yang membantu pemelajar untuk melatih kemampuan pelafalannya. Modul digital menjadi pilihan peneliti sebagai bahan ajar pelafalan BIPA. Untuk menyusun bahan ajar tersebut, ujaran pemelajar harus dianalisis terlebih dahulu untuk mengetahui jenis kesalahan apa yang sering dilakukan. Dengan pisau analisis fonetik artikulatorislah bunyi bahasa Indonesia yang dilafalkan pemelajar dapat diketahui letak kesalahannya dengan tepat. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan pelafalan pemelajar BIPA Korea dan hasil analisis kesalahan fonetik artikulatoris terhadap pelafalan tersebut, serta pemanfaatannya sebagai bahan ajar BIPA tingkat dasar. Penelitian ini dilakukan dalam bingkai metode kualitatif deskriptif dengan langkah analisis kesalahan dan fonetik artikulatoris sebagai pisau analisisnya. Sebagai temuan penelitian, peneliti berhasil menemukan kata-kata, khususnya fonem-fonem yang salah dilafalkan. Kesalahan tersebut dilihat dari jenis-jenis kesalahan yang ditemukan, yaitu perubahan bunyi sebanyak 245 kesalahan, yang terdiri atas fonem [s], [ə], [r], [f], dan [z], dan lainnya. Pertukaran bunyi sejumlah 5 kesalahan yakni fonem [r] dengan [l], dan lainnya. Penambahan bunyi sejumlah 73 kesalahan, yang terdiri atas fonem [ə] dan lainnya. Penghilangan bunyi sebanyak 76 kesalahan yang terdiri atas fonem [ĥ], [h], [r], dan lainnya. Hasil temuan tersebut kemudian disusun untuk pembuatan bahan ajar berbentuk modul digital. Modul digital yang diberi judul “Modul Pelafalan Bunyi Bahasa Indonesia untuk BIPA” ini memuat video-video yang mencontohkan kepada pemelajar cara mengartikulasikan bunyi bahasa yang benar seperti penutur asli bahasa Indonesia. Video tersebut beserta fasilitas lainnya dihubungkan dengan teknologi media QR Code, sehingga bisa diaplikasikan di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, modul digital ini sesuai digunakan pada masa modern dan suasana pandemi saat ini.
Referensi
Amalia, I. J. (2015). Kajian Fonetik terhadap
Tuturan Penyandang Tunarungu Tingkat
Berat. (Skripsi). Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung.
Annisa, I. R. (2018). Pengembangan Materi
Pelafalan Berbasis E-Learning dengan
Metode Audiolingual untuk Pemelajar
BIPA Tingkat Dasar. (Tesis). Sekolah
10
Pascasarjana, Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung.
Asmayanti, A., Cahyani, I., & Idris, N. S.
(2020). Model Addie untuk
Pengembangan Bahan Ajar Menulis
Teks Eksplanasi Berbasis Pengalaman.
In Seminar Internasional Riksa
Bahasa (pp. 259-267).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
(1992). Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, A. (2007). Kajian Bahasa: Struktur
Internal, Pemakaian, dan Pemelajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2013). Fonologi Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2014). Linguistik Umum. Jakarta:
PT Rineka Cipta.
Chaer, A. (2019). Tata Bahasa Praktis
Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Hwa, A. K., dkk. (2013). Bahasa Korea
Terpadu untuk Orang Indonesia.
Seoul: The Korean Foundation.
Kurniawan. (2015). Pemerolehan Bahasa
Anak Usia 2 Tahun Hasil Pernikahan
Pasangan Beda Daerah: Kajian Fonologi
(Fonetik Artikulatoris). Jurnal Linguistik
Terapan Politeknik Negeri Malang, 5
(2): 1-15.
Mi, K. N. (2010). 쉽게 배워 바로 써먹는
친절한 국어 문법. Seoul: Sapiens21.
Muryani, T. (2017). Analisis Kesalahan
Fonologis pada Anak Tunagrahita dan
Implikasinya terhadap Pembelajaran.
Studi Kasus Sekolah Menengah Atas
Luar Biasa C di Sekolah Luar Biasa
Permata Ciranjang Kabupaten
Cianjur.(Skripsi). Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Muslich, M. (2015). Fonologi Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Pimsleur, P. (2013). How to learn a foreign
language. New York: Pimsleur.
Putrawansyah, F., dkk. (2016).
Pengembangan Digital Book Berbasis
Android Materi Perpindahan Kalor di
Sekolah Menengah Atas. IJNSIndonesian Journal on Networking and
Security, 5(4), 39-48.
Sa’diyah, I. dan Izhatullaih. (2017). Pedoman
Pelafalan Baku Bahasa Indonesia dengan
Media Audiovisual dalam Pembelajaran
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kedua
atau Bahasa Asing. Proceedings
Education and Language International
Conference, 1(1), 417-425.
Supardi, C. N. (2017). Penerapan
Pendekatan Komunikatif dalam
Pembelajaran Fonetik Artikulatoris
terhadap Pembelajar Asing Tingkat
Dasar. (Skripsi). Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung.
Tarigan, H. G. dan Djago T. (2011).
Pengajaran Analisis Kesalahan
Berbahasa. Bandung: Penerbit
ANGKASA.
Wiratsih, W. (2019). Analisis Kesulitan
Pelafalan Konsonan Bahasa Indonesia
(Studi Kasus Terhadap Pemelajar BIPA
Asal Tiongkok di Universitas Atma Jaya
Yogyakarta). Jurnal Kredo, 2(2), 242-
255
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Artikulasi: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.






